Trend

Para pelaku teknikal analisis menggunakan charts untuk menganalisis trend. Ada pepatah mengatakan “trend is your friend”.

Trend dapat dibagi menjadi 3:

  • Uptrend, harga cenderung naik.
  • Downtrend, harga cenderung turun.
  • Sideways/trendless, harga naik turun namun cenderung tetap, pada grafik umumnya bisa ditarik garik lurus.

Garis Trend

Adalah garis panduan yang dibuat untuk menunjukan arah trend. Garis ini dibuat dengan menghubungkan titik-titik tertentu pada charts.

  • Garis uptrend dibuat dengan menghubungkan titik-titik harga terendah.
  • Garis downtrend dibuat dengan mengbungkan titik-titik harga tertinggi.

Yang menjadi pertanyaan adalah titik kedua dapat digunakan untuk menarik garis trend. Ini berlaku untuk downtrend dan uptrend. Kita ambil contoh uptrend.

Ada analis yang menyarankan, titik kedua dapat digunakan jika sudah melewati resistance dari harga tertinggi terakhir.

Ada juga yang menyarankan, cukup 50% jarak titik kedua terhadap garis resistance, maka titik ini sudah bisa digunakan untuk menarik garis trend.

Hal diatas berlaku juga untuk membuat garis downtrend. Pada downtrend menggunakan garis support sebagai acuan. Support adalah harga terendah sebelumnya.

50% break biasanya digunakan oleh trader yang lebih agresif. Sementara 100% break biasanya digunakan para trader yang lebih konservatif.

Harga yang digunakan trendline

Penggunaan harga yang digunakan untuk menarik trendline masih menjadi perdebatan. Ada yang menggunakan harga open-close, ada yang menggunakan harga highest dan lowest.

Umumya para teknikal analis, menggunakan highest dan lowest. Karena hasilnya lebih akurat.

Contoh dibawah adalah downtrend dengan menggunakan highest price untuk menarik garisnya.

Cara Menggunakan Trendline

Trendline dapat digunakan jika sudah dikonfirmasi oleh titik ke-3. Sebuah trend akan menjadi lebih kuat jika sudah divalidasi oleh titik ke-3. Makin banyak titik validasinya, makin kuat trend tersebut.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, harga akan bergerak dalam trend. Contohnya kita gunakan uptrend. Bila garis uptrend sudah terbentuk dan dikonfirmasi oleh beberapa titik, ini bisa kita jadikan sebagai sinyal buy.

Namun bila garis uptrend ditembus oleh chart, menjadi sinyal awal melakukan aksi jual (dengan asumsi kita sudah memiliki saham tersebut).

Note: Hal diatas berlaku juga untuk downtrend. Bila sudah terkonfirmasi downtrend, kita bisa melakukan aksi sell. Namun bila garis trend ditembus oleh chart, ini menjadi sinyal awal untuk melakukan aksi beli.

Perubahan Trend

Perubahan trend bisa diawali dengan ditembusnya garis trend oleh chart. Garis trend dinyatakan valid tertembus bila harga closing / penutupan berada diluar garis trend. Disebut valid break.

  • Pada uptrend, penembusan sudah valid bila garis trend dipotong oleh chart dengan harga closing dibawah garis trend.
  • Pada downtrend, penembusan sudah valid bila garis trend dipotong oleh chart dengan harga closing diatas garis trend.

Jika garis trend terpotong, namun harga closing belum dibawah atau diatas garis trend, disebut false break atau whipsaws.

Major, Secondary dan Minor Trend

Menurut Dow (pendiri Dow Jones Co):

  • Major trend suatu market dapat dilihat dalam periode 1 tahun atau lebih.
  • Secondary trend, terjadi karena koreksi sesaat, ada dalam rentang 3 minggu – 3 bulan.
  • Minor trend, umumnya terjadi kurang dari 3 minggu. Minor trend adalah fluktuasi yang terjadi pada secondary trend.

Kesimpulan

Mengidentifikasikan trend adalah penting dalam teknikal analisis. Namun, jika ada pertanyaan kemana arah tren? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab tanpa mengetahui time horizon yang dimaksud. Pandangan short term trader dengan long term investor akan berbeda.

Sharing is caring: