Mengatasi False Breakout

False breakout adalah harga yang berbalik arah karena gagal breakout. Walaupun harga sudah menembus batas toleransi, hal ini mungkin terjadi.

Untuk mengatasi ini, kita harus memiliki trading plan yang mengatur entry dan exit point.

Berikut contoh false breakout dengan menggunakan saham BBRI. Pada chart sudah terlihat menembus batas toleransi. Namun yang terjadi adalah ternyata harga saham malah kembali turun ke level support.

Dengan memiliki trading plan, hal ini dapat diantisipasi.

Contoh skenario trading plan

Misal trader A akan membeli saham BBRI yang sudah sideways selama 4 bulan, dari bulan Juli -November 2017. Saat yang tepat adalah membeli saat chart break strong resistancenya pada Rp. 2.453,55.

Batas toleransi breakout adalah 1.5%, yaitu pada 2.498,7. Batas toleransi sudah ditembus, berarti pada candle yang ditandai breakout adalah sinyal untuk beli.

Nah bila kita memiliki trading point, kita akan membeli setelah breakout terjadi, namun menentukan juga exit point untuk melakukan cut lost.

Setiap trader mempunyai rumus sendiri untuk menentukan exit point. Misal untuk contoh ini kita akan cut lost jika harga turun 1.5% dari strong resistance Rp. 2.453,55 yaitu Rp. 2.416,2

Ketika harga mencapai Rp. 2.416,2 trader A akan menjual saham nya.

Karena contoh menggunakan data history, tentu skenario ini berjalan dengan baik. Trader A melakukan cut lost dengan tetap. Dapat dilihat di area hitam transparent, harga turun kembali dibawah strong resistance sebelumnya.

Dengan kata lain Trader A harus siap rugi Rp. 36,7 per lembar saham jika chart menunjuknan harga turun hingga exit point.

Ide dari trading plan diatas adalah “cut your lost, let your profit run.” atau rugi seminimal mungkin, untung sebanyak mungkin.

Catatan penting lainnya adalah, jika Anda sudah menentukan trading plan, konsisten terhadap plan tersebut. Namun jika ada kekurangan dengan trading plan, revisi dan kemudian kembali konsisten dengan trading plan yang sudah di revisi.

Sharing is caring: