Untuk meredam bad signals (whipsawas) kadang diperlukan batas toleransi sebelum harga yang melewati suatu garis dinyatakan penembusan (valid break). Umum digunakan untuk trendline. Batas toleransi yang digunakan umumnya 0.5% – 5% tergantung time horizon yang digunakan.
Batas toleransi juga bersifat subyektif, tergantung tingkat agresif atau konservatif dari trader. Selain itu perlu memperhitungkan riwayat pergerakan hara serta rasio risk:reward.
Berikut panduan dasar batas toleransi, silakan diubah sesuai gaya trading dan kebutuhan.
- Short term : batas toleransi 0.5-1.5%.
- Medium term : batas toleransi 2-3%.
- Long term : batas toleransi 3.5-5%.
Contoh kasus penggunaan batas toleransi:
- Trader A memiliki saham dengan harga saat ini adalah $127. Daily chart uptrend dengan trendline di level $125. Batas toleransi yang digunakan 2%. Maka, trendline – toleransi = $125 – 2% = $122.5
- Trader A akan menjual saham bila harga menembus trendline. Untuk mevalidasi break, maka harga penutupan harus dibawah $122.5.
- Misalnya pada hari berikutnya, harga kembali naik diatas level toleransi, maka sinyal jual dibatalkan.