Frekuensi dan Waktu Post di Social Media

Sebuah brand perlu hadir secara konsisten pada social media agar dapat dilihat dan ditemukan oleh calon customer.

Namun terlalu sering hadir tidak berarti lebih baik. Sebuah brand harus hadir dalam pikiran audience, namun Anda tidak ingin membanjiri feeds mereka dan berpotentsi meninggalkan Anda.

Frekuensi Post

Seberapa sering melakukan post di social media tergantung platformnya sendiri dan bagaimana platform bekerja.

Contoh, Twitter terdapat opsi untuk melihat feed secara konologis, dimana konten terakhir akan tampil diawal feeds.

Untuk platform dengan kronolgis feeds, memposting beberapa kali dalam hari memberikan kesempatan mencapai target audience pada timezone berbeda dan beberapa point dalam keseharian mereka.

Jika Twitter relevan dengan brand, Anda dapat membuat post beberapa kali dalam sehari.

Sementara untuk platform yang berdasarkan algoritma, Anda harus merencanakan frekuensi yang berbeda.

Social media yang menggunakan algoritma akan menyusun post pada user feed berdasarkan relevansi dibandingkan berdasarkan waktu publikasi. Ini berarti platform memprioritaskan konten berdasarkan kemungkinan bahwa mereka ingin melihat post tersebut.

Untuk platform berbasi algoritma, seperti Facebook dan Instagram, disarankan untuk mengurangi frekuensi membuat post. Karena terlalu banyak post cenderung menurunkan engagement.

Pada platorm ini, irama posting tergantung dari brand. Bisa jadi untuk brand tertentu sehari sekali sudah cukup, namun untuk brand lainnya hanya beberapa kali dalam seminggu.

Yang dapat kita sediakan adalah panduan umum, mencari tahu frekuensi terbaik diperlukan trial and error. Jadi Anda perlu melakukan testing dan analisa. Kita akan bahas testing dan analisa pada modul terpisah.

Waktu Post

Anda perlu juga pertimbangkan waktu yang paling optimal, dan ini bisa bervariasi untuk platform berbeda.

Membuat post di pagi hari secara umum cukup efektif karena ini saat pengguna social media melihat feed yang belum terbaca.

Waktu istirahat makan siang juga cukup efektif, karena disini mereka punya waktu luang.

Lalu, setelah jam kerja, karena selain sudah tidak ada pekerjaan, mereka ingin mencari tahu apa saja yang terlewat hari itu.

Untuk mengetahui waktu terbaik sebuah post, berikut beberapa faktor yang bisa dipertimbangkan:

  • Kapan target audience aktif di social media. Dengan melakukan riset kapan follower Anda aktif pada platform tertentu dan memposting pada waktu tersebut, memperbesar kemungkinan konten Anda akan mencapai mereka. Pertimbangkan juga timezone target audience dan sesuaikan jadwalkan post.
  • Analisa post terdahulu yang memiliki performa terbaik. Review jam berapa, dan hari apa post tersebut dibuat. Coba cari polanya. Data ini dapat diperoleh menggunakan analytic tools, yang akan kita bahas pada modul terpisah.
  • Musim dan Liburan, contoh konsumen cenderung pergi liburan pada akhir desember hingga awal januari, atau saat liburan anak sekolah. Jika bisnis Anda adalah travel agent, ini saatnya terbaik untuk membuat posting.
  • Event saat ini, misalnya jika sedang terjadi bencana nasional, Anda perlu membatalkan posting yang Ada, dan menggantinya dengan postingan yang menyatakan dukungan dan keprihatinan.


Kesimpulan

Untuk menentukan waktu terbaik membuat post, Anda perlu pertimbangkan hal seperti, kapan user aktif, pola dari post yang berperforman tinggi, musim dan libura serta event saat ini.

Untuk frekuensi, ini akan berbeda untuk setiap bisnis dan platform. Namun dengan mengikut panduan global diatas, Anda dapat mengoptimalkan frekuensi posting untuk mendapatkan hasil terbaik.

Sharing is caring: