Pengenalan Data Storytelling

Proses penarikan data, pelaporan, analisis, dan atribusi, menghasilkan wawasan berharga untuk menentukan jalannya proyek atau strategi.

Tapi bagaimana Anda mengubahnya wawasan ke dalam tindakan? Bagaimana Anda menyampaikan bahwa sesuatu perlu dilakukan? Caranaya adalah menggunakan data storytelling.

Tanpa story, data hanyalah angka. Angka-angka dapat memberi tahu apa yang terjadi, tetapi mereka tidak dapat memberi tahu mengapa itu terjadi, mengapa itu penting, dan apa yang dapat Anda lakukan tentang hal itu. Di situlah data storytelling masuk.

Data storytelling adalah praktik menyampaikan wawasan data kepada audiens tertentu menggunakan narasi yang jelas dan yang meyakinkan.

Data memiliki banyak cerita untuk diceritakan, dan tiap orang dapat menceritakan menceritakan hal yang berbeda. Setiap orang membawa perspektif mereka sendiri, pengalaman, dan bias terhadap data storytelling.

Data storytelling memiliki tiga komponen utama, data itu sendiri, narasi yang menarik, dan visualisasi yang jelas. Dengan menggunakan komponen ini, Anda harus melibatkan audiens dan menjelaskan apa yang Anda pelajari, dan bagaimana Anda dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengambil tindakan.

Mari kita bahas satu per satu komponent diatas.

Pertama, Data. Pikirkan data seperti karakter dalam drama. Jika mereka semua berada di atas panggung sekaligus, akan sulit di mana Anda memusatkan perhatian.

Jadi Anda harus selektif tentang angka mana yang akan disorot. Poin data terpenting perlu anda tonjolkan, sementara yang lain digunakan sebagai pendukung, dan mungkin beberapa data memang sama sekali tidak diperlukan.

Untuk memutuskan poin data mana yang penting, anda perlu memahami pertanyaan yang Anda coba jawab.

Misalnya, ingin yang mengukur hasil dari kampanye baru di media sosial. Pertanyaan bisa sesederhana seperti menanyakan apakah kampanye baru ini lebih efisien daripada yang terakhir.

Untuk pertanyaan itu, data point utama mungkin return on ads spend.

Jadi perlu diingat, Anda perlu memahami pertanyaan yang ingin dijawab untuk mengetahui data apa yang digunakan.

Selanjutnya adalah narasi. Narasi itu seperti plot sebuah drama, apa yang terjadi dalam sebuah cerita. Narasi yang terstruktur dengan baik akan menarik, mudah diingat dan persuasif.

Setelah Anda memilih data poin dan wawasan yang menjawab pertanyaan Anda, Anda dapat mulai membangun narasi yang efektif.

Melanjutkan contoh diatas, Anda akan menjelaskan bagaimana data ROAS yang dikumpulkan dibandingkan dengan kampanye sebelumnya dan bagaimana itu dapat memengaruhi upaya Anda di masa mendatang.

Anda dapat menggunakan point-point konteks narasi dibawah sebagai panduan.

Konteks Narasi

Apa arti dari wawasan yang Anda sampaikan.

Mengapa itu penting bagi Audiens Anda.

Langkah apa yang dapat diambil setelah memahami wawansan tersebut.

Dalam narasi, tidak berarti Anda harus memiliki semua jawaban. Bahkan, beberapa cerita yang baik, dapat
menciptakan ruang untuk diskusi.

Namun menarik audiens Anda dengan narasi yang kuat dapat menarik perhatian pada wawasan Anda dan
mendorong orang lain untuk mengambil tindakan.

Yang terakhir adalah visualisasi.

Data visualization adalah menyampaikan informasi dari data dalam bentuk grafik.

Data visualisasi akan memudahkan audiens memahami apa yang terjadi dalam narasi. Visualisasi dapat berupa charts, graphs, infographics, atau ilustrasi lainnya.

Visualisasi yang ditempatkan dengan baik akan mengklarifikasi tren dan mengekspresikan hubungan
antara data point.

Menggunakan contoh ROAS diatas, Anda akan membandingkan ROAS kampanya sebelumnya dan kampanya baru.

Dibandingkan dengan tabel perbandingan yang berisi angka, akan jauh lebih jelas bagi audiens jika ditampilkan menggunkan bar graph. Audiens akan menangkap maksud yang disampaikan dengan dengan cepat dan jelas.

Sharing is caring:

Leave a Comment